Menu

Mode Gelap

Kesehatan · 9 Nov 2022 13:21 WIB ·

Tikus Got Menjadi Pemandangan Biasa: Bahaya! Menjadi Sumber Penyakit


					Ilustrasi-Tikus Perbesar

Ilustrasi-Tikus

Menara.co.id| Medan – Tikus got dengan nama latin Rattus norvegicus berpopulasi hampir diseluruh belahan dunia, hewan pengerat satu ini paling sering ditemukan masuk ke areal perkotaan untuk mencari sumber makanan, masuk kedalam rumah maupun selokan dan gorong-gorong, diperkotaan tikus memilih mengkonsumsi makanan yang juga dikonsumsi oleh manusia.

Sementara itu kepadatan penduduk pada daerah tertentu akan memiliki efek samping terkait dengan permasalahan kependudukan, seperti munculnya kawasan kumuh kota dengan rumah-rumah tidak layak huni yang akan mempengaruhi turunnya kualitas hidup dan lingkungan, keadaan ini juga mendorong tingginya populasi tikus diperkotaan, karena itu tak jarang kita sering berpapasan dengan hewan tersebut.

Lantas kota dengan luas wilayah dan penduduk yang padat memiliki perhatian khusus bagi pemerintah dan masyarakatnya, merujuk dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Kota Medan memiliki luas 265,10 Kilometer persegi, dengan penduduk sebanyak 2.460.858 jiwa, dan tersebar pada 21 Kecamatan. Meski dengan luasan tersebut ternyata Kota Medan pernah menyandang predikat buruk sebagai kota terkotor pada tahun 2019 lalu, penilaian ini diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk kategori kota metropolitan.

Baca juga:  Food Truck Brimob Polri sediakan 18.000 Paket Makanan Bagi Pengungsi Gempa Cianjur

Kondisi lingkungan yang kotor membuat satwa liar seperti tikus berkembang biak dengan populasi yang tinggi, tikus termasuk jenis binatang yang perkembangannya sangat cepat apabila kondisi lingkungan menguntungkan bagi kehidupannya, faktor yang menunjang reproduksi tikus meliputi ketersediaan makanan dan tempat perlindungan yang potensial seperti got, pasar tradisional, dan pemukiman.

Tikus merupakan satwa liar yang sering kali berasosiasi dengan kehidupan manusia, keadaan tersebut membuat keadaan yang merugikan, terutama dalam hal kesehatan, tikus dapat menjadi reservoir beberapa patogen penyebab penyakit pada manusia. Terlebih urin dan liur tikus dapat menyebabkan penyakit leptospirosis serta penyakit lainnya, serta gigitan pinjal yang ada pada tubuh tikus justru dapat mengakibatkan penyakit pes.

Baca juga:  Bupati Inhu Rezita Himbau Masyarakat Agar Cerdas Memilih Produk Obat dan Makanan

Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang bernama leptospira. Umumnya bakteri ini terdapat pada kotoran dan kencing hewan, salah satunya adalah tikus. Jadi sangat memungkinkan sekali ketika terjadi banjir, kencing tikus yang terjangkit bakteri leptospirapun juga ikut tersebar, dan masyarakat akan beresiko terkena penyakit tersebut, terlebih saat musim hujan dipenghujung tahun seperti saat ini berbagai penyakit berpotensi mengancam kesehatan manusia.

Penyakit Leptospirosis dalam beberapa kasus justru menimbulkan kerugian yang sangat fatal, seperti yang terjadi di Kota Semarang dalam tahun ini  mencatat dari 22 kasus penyakit leptospirosis yang ditemukan, 6 diantaranya meninggal dunia. Pertanda jika keberadaan tikus dalam ruang lingkup manusia memiliki dampak buruk. (Jos)

Artikel ini telah dibaca 160 kali

Redaksi Menara badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Serukan Pemilu Damai, Dokkes Polres Inhu Gelar Bakkes Untuk Korban Banjir

3 Januari 2024 - 15:40 WIB

Satgas Banops Dokkes Ops Lilin – LK 2023-2024 Polda Riau Laksanakan Patroli dan Pelayanan Kesehatan Preventif, Preemtif dan Kuratif

27 Desember 2023 - 23:37 WIB

Cooling System Dokkes Polres Inhu, Imbauan Pemilu Damai dan Patroli Kesehatan

25 Desember 2023 - 21:07 WIB

HUT Humas Polri, Puluhan Kantong Darah Terkumpul Saat Donor Darah di Polres Inhu

2 Oktober 2023 - 18:31 WIB

Kades Talang Sei Parit Sudiman, Terus Berperan Turunkan Angka Stunting bagi Warganya

20 Juni 2023 - 20:03 WIB

Bahaya di Balik Nikmat Kentang Goreng

11 Juni 2023 - 20:03 WIB

bahaya kentang goreng
Trending di Kesehatan